Rabu, 01 Maret 2017

Review The Last Guardian



Nah, pada kali saya masih membahas game yang juga diproduksi oleh Sony Japan Studio. Game ini juga menjadi penerus dari ICO dan Shadow Of Colossus. Game ini tidak lain adalah The Last Guardian. Game yang digosipkan menjadi game terbaik di tahun 2016 ini juga memiliki atmosfer yang tidak kalah dari dua pendahulunya ICO dan SOC. Jadi saya akan membahas beberapa hal menarik dari game The Last Guardian.

10 tahun merupakan waktu yang dibutuhkan untuk menantikan game ini. Game ini pertama kali diperkenalkan sebagai produk eksklusif untuk PS3 di tahun 2007. Minim informasi tentang game ini bahkan cukup untuk membuat rumor soal pembatalannya muncul dan kian menguatkan rasa pesimis bahwa kita akan bisa melihat produk finalnya di masa depan. Di sisi lain. hampir semua gamer yang pernah mencoba game buatan merekan yang lebih dulu yaitu ICO dan SOC mengerti jelas kekuatan game merekan yang tak pernah mengecewakan.  tapi untungnya, kita berakhir dengan skenario terbaik yang bisa kita minta.

Setelah 9 tahun pengunguman yang cukup membahagiakan sebelumnya, The Last Guardian muncul dalam produk komersial. The Last Guardian merupakan game yang didesain untuk memenuhi hasrat dan daya tarik beberapa game mainstream saat ini. Sama seperti SOC, The Last Guardian juga memberikan sebuah pengalaman yang belum pernah ada sebelumnya. Di sini Sony Japan Studio menciptakan kedekatan emosional antara anda, sebagai seorang anak tanpa nama sekali dengan seekor binatang raksasa bernama Trico.

PLOT


Mengambil alur cerita mundur, plot bergerak dalam kisah seseorang yang menceritakan entah kisah dongeng atau pengalaman pribadinya terkait seekor makhluk luar biasa bernama Trico. Di sini, anda berperan sebagai seorang anak kecil tanpa nama yang saya sebut " No Name " pada review kali ini. Gak tau kenapa si No Name gak punya nama.

Si No Name terbangun tanpa ingatan, di sebelah seekor makhluk raksasa dengan bulu seperti burung dan sayap yang membentang lebar dan agak rusak yang bernama Trico. Dengan topeng sedikit pecah dan rantai yang membelenggunya, si No Name memiliki empati untuk merawatnya. Si Trico pun juga sepertinya menyukai sI No Name. Akhirnya, si No Name memutuskan untuk keluar dari sebuah kastil yang mengurung mereka berdua bersama Trico.

Seiring dengan perjalanan di game ini. Anda akan mulai mendaparkan lebih banyak soal dunia dari The Last Guardian sendiri. Anda akan bertemu banyak hal yang membuat Trico takut seperti kaca dengan motif tertentu sehingga pasukan dengan baju pelindung yang mengincarnya.
BERPIKIR LEBIH LUAS



Secara sederhan, merekan yang familiar, anda bisa menyebutnya sebagai kombinasi antara ICO dan SOC. Ico karena ini memuat sedikit elemen escoert yaitu jika sang anak terjatuh dari ketinggian atau tertangkap oleh pasukan berjubah kamu akan gagal. Shadow Of Colossus karena sudah jelas sosok Trico yang sangat besar dan kamu harus memanjatnya. Tapi, jika berbicara soal genre, The Last Guardian memang lebih cocok untuk dikategorikan sebagai game platformer puzzle. Karena bukan action dan lusinan musuh yang ada disini, tapi hanya bagaimana kamu dapat bekerja sama dengan baik dengan Trico untuk keluar dari kastil tersebut dengan memanfaatkan segala barang yang ada di sana. 

TRICO BINATANG YANG MENGAGUMKAN


Satu hal yang pasti, kita sangat sulit untuk tidak kagum pada sosok Trico sendiri. Memang sulit melihatnya dari sekedar gambar statis yang anda temukan di review kali ini, tapi saya sendiri bahwa Trico merupakan makhluk paling mengagumkan.

Disini, kita berbicara tentang makhluk besar dengan tingkah laku yang mirip seperti hewan pada umunnya dan beberapa hal detail lain yang juga di ciptakan. Seperti memainkan rantai besi yang menjuntai, raungan manjanya atau ketakutannya terhadap air. 

Sepertinya tidak banyak yang dapat saya bahas dari game ini, bila ingin melihat info lebih lengkap dari game ini lihat saja di http://jagatplay.com. Terimakasih

The Last Guardian ( Trailer ) 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar